Cognitive Behaviour Theraphy (CBT) case examples – Mengendalikan Kebiasaan Merokok di Kalangan Siswa SMP

Cognitive-Behavioral Therapy (CBT) merupakan salah satu bentuk terapi yang bertujuan membantu klien agar dapat menjadi lebih sehat, memperoleh pengalaman yang memuaskan, dan dapat memenuhi gaya hidup tertentu, dengan cara memodifikasi pola pikir dan perilaku tertentu. Pendekatan kognitif berusaha memfokuskan untuk menempatkan suatu pikiran, keyakinan, atau bentuk pembicaraan diri (self talk) terhadap orang lain. Terapi ini juga memfokuskan pada upaya membelajarkan klien agar dapat memiliki cara berpikir yang lebih positif dalam berbagai peristiwa kehidupan dan tidak hanya sekedar berupaya mengatasi penyakit atau gangguan yang sedang dialaminya. Cognitive Behavior Therapy ini dibangun atas dasar bahwa manusia memiliki potensi berpikir, baik yang rasional maupun irrasional.

CBT dapat digunakan dalam rangka membantu menangani berbagai masalah yang dihadapi individu seperti : depresi, kecemasan dan gangguan panik, atau dalam menghadapi peristiwa hidup lainnya, seperti: kematian, perceraian, kecacatan, pengangguran, masalah yang berhubungan dengan anak-anak dan stres. CBT lebih memfokuskan pada hasil dan tujuan, termasuk didalamnya adalah hasil jangka pendek (segera) dari proses konseling yang sedang berjalan, yaitu tercapainya pengalaman positif klien yang relatif cepat dengan adanya kemajuan perasaan yang lebih lega dan daya tahan. Konselor kognitif behavioral biasanya akan menggunakan berbagai teknik intervensi untuk mendapatkan kesepakatan perilaku sasaran dengan klien (Haag dan Davidson, 1986; Meichenbaum, 1986).

Contoh Kasus:

Penggunaan Cognitive Behavior Therapy untuk Mengendalikan Kebiasaan Merokok di Kalangan Siswa SMP melalui Peningkatan Perceived Self Efficacy Berhenti Merokok

Siswa SMP  yang menjadi sasaran pelaksanaan treatment ini yaitu mereka yang memiliki kemampuan berpikir rasional dan irrasional dengan berbagai kelebihan dan keterbatasan unik yang dibawanya sejak lahir. Dengan potensi yang ada mereka dituntut untuk memiliki kemampuan berpikir danbertindak secara rasional dan realistik, agar mereka dapat melakukan adaptasi dengan baik terhadap lingkungannya. Seiring dengan munculnya pemikiran irrasional tersebut (misalnya, “merokok lebih jantan”, “merokok lebih macho”, dan lain-lainnya) memang perlu ada upaya yang sistematis dan realistik untuk menggiring mereka agar mampu berpikir rasional dan proporsional dalam memahami suatu konteks masalah.

Manfaat cognitive behavior therapy sebagai sarana modifikasi perilaku yakni mengajak klien untuk menentang pikiran (dan emosi) yang salah, dengan menampilkan bukti yang bertentangan dengan keyakinan mereka tentang masalah yang dihadapi.

Perubahan perilaku merokok menjadi berhenti merokok akan lebih efektif jika terjadi melalui proses internalisasi, dimana perilaku berhenti merokok tersebut dianggap bernilai positif bagi diri individu sendiri dan diintegrasikan dengan nilai lain dari hidupnya. Parameter keberhasilan penerapan cognitive behavior therapy dalam kaitannya dengan peningkatan perceived self efficacy herhenti merokok (choice behavior, performance, persistence) manakala terjadi perubahan yang signifikan dari “I can’t do that” menjadi “May be I can” setelah melalui suatu proses terapi. Perceived self efficacy atau perceived behavioral control adalah kemampuan yang dirasakan atau rasa percaya diri untuk membentuk perilaku yang relevan pada tugas atau situasi khusus (Smet, 1994), atau keyakinan dan pengharapan untuk menguasai beberapa tindakan yang dibutuhkan untuk mendapatkan hasil tertentu (Sullivan & Mahalik, 2000).

Menurut Meichenbaum , bahwa perubahan perilaku terjadi melalui proses perubahan perilaku melalui tahap berikut:

1) Observasi diri. Pada tahap ini, klien dapat belajar mengamati perilaku diri sendiri melalui pernyataan serta imajinasi tentang dirinya sendiri. Oleh karena itu, yang diperlukan adalah terapi yang diarahkan kepada bagaimana keterampilan kognitif baru yang mampu memahami masalah sendiri dengan cara melihat suatu prospektif.

2) Memulai dialog internal yang baru. Melalui kontak dengan terapis sebelumnya, klien diberikan kesempatan menggunakan alternatif perilaku adaptif yang akan membawa perubahan perilaku kognitif dan afektif.

3) Mempelajari keterampilan baru. Pada tahapan ini terapis dapat mengajarkan keterampilan kepada klien untuk menangani sesuatu dengan efektif dan mempraktikan dalam situasi kehidupan nyata.

Pengertian mendalam setelah melewati proses cognitive behavior therapyyaitu penerimaan cermat dari isi terapi sebagaimana yang dimaksud oleh komunikator (penyampai pesan). Menumbuhkan kesenangan yaitu semua pesan yang dikomunikasikan kepada orang lain menimbulkan keakraban, kehangatan dan menyenangkan sehingga terjadi anallsis transaksional “Saya Oke – Kamu Oke”. Berpengaruh pada sikap (dan self efficacy) yang dimaksud adalah semua proses persuasif lewat manipulasi psikologis (terapi) mampu mempengaruhi pendapat, sikap dan tindakan atas kehendak sendiri.

Sumber: http://jurnal.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/11560501.pdf

Categories: Tugas | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: